Resensi Novel Hulubalang Raja
1.Identitas
Novel
Judul : Hulu Balang Raja
Penulis : N.St.Iskandar
Pengarang
: Balai Pustaka
Tahun terbit : Jakarta, 2001
2.
Biografi Penulis
Nur Sutan Iskandar, ketika
kecil bernama Muhammad Nur. Setelah beristri ia diberi gelar Sutan Iskandar,
sesuai dengan adat Minangkabau tempat asal
pengarang.
Pengarang ini lahir di Sungaibatang,
Maninjau, tanggal 3 November 1893 dan meninggal di Jakarta tanggal
28 November 1975 dalam usia 82 tahun.
Setelah mendapat didikan pada Sekolah
Melayu, ia diangkat menjadi guru. Selama mengajar itulah ia belajar
sendiri dari buku-buku, terutama tentang
bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Seiring pula ia menulis untuk
surat-surat kabar di Padang, kemudian ia
pindah kerja pada Balai Pustaka. Mula-mula ia korektor, kemudian
berturut-turut diangkat menjadi redaktur
dan redaktur kepala.
Tak kurang dari 82 judul buku diterbitkan
atas namanya. Karyanya yang mula-mula diterbitkan berjudul Apa
Dayaku Karena Aku Perempuan (1922).
Kemudian terbit antara lain Cinta Yang Membawa Maut (BP 1926),
Salah Pilih (BP 1928),
Neraka Dunia (BP 1938) Cobaan (BP 1946), sekarang diganti judulnya jadi Turun Ke
Desa. Selain itu ia juga menulis buku bacaan untuk pelajar, seperti Cerita Tiga Ekor Kucing, Penglaman
Masa Kecil, Cinta Tanah Air, dan
menerjemahkan karya Alexander Dumad; Tiga Orang Panglima Perang,
Dua PuluhTahun Kemudian, Graaf de Monte Cristo; karya Sinkiewiz, Imam dan pengasihan, dan
terakhir
karya Tagore; Cinta dan Mata, yang
terbit tahun 1977.
3.
Sinopsis
Hari kamis pagi..., di sebuah kerajaan,
matahari sudah memancarkan sinarnya , hawa dingin telah berganti
dengan panas dan di dalam sebuah rumah
besar di kampung Hulu dalam daerah Indrapura orang baru selesai
makan pagi. Di luar sudah terdengar bunyi
suri memukul benang, dan pasti Putri Ambun Suri mulai bertenun.
Di teras telah tampak Sultan Ali Akbar
sudah sepekan bermenung berdiam diri saja, sepatah kata pun tidak
keluar dari mulutnya. Raja Kota Hulu dengan
Putri Reno Gading sudah mulai heran dengan sikap anaknya
yang termenung salama sepekan ini. Ternyata
Sultan Ali Akbar memikirkan tentang adat kebiasaan di
kampungnya itu, yaitu jikalau anak
laki-laki dibesarkan setelah besar akan di beri gelar sedangkan anak
perempuan dibesarkan setelah besar lalu
diajar sopan santun setelah tahu maka akan dicarikan suaminya yaitu
dengan mengadu peruntungan atau saembara di
sebuah gelanggang. Setelah Sultan Ali Akbar
memberitahukan akibat ketermenungannya itu,
tahulah Raja Kota Hulu maksud anak laki-lakinya itu, untuk
mencarikan suami untuk adiknya Sultan Ali
Akbar.
Raja kota Hulu, yang merasa putrinya Ambun
suri sudah dewasa dan saatnya dicarikan seorang suami. Untuk
itu dia mengundang para bangsawan di daerah
sekitar kota Hulu ataupun dari daerah lainnya untuk mengadu
peruntungan menjadi suami putrinya itu.
Namun ternyata para bangsawan itu, kecuali Sultan Muhammad
Syah seorang raja serakah di kota Hilir
yang berhasil melampaui perlombaan yang digelarkan, sehingga
hanya dialah yang berhak melamar Putri
Ambun Suri. Lamaran Raja Sultan Muhammad Syah yang
sebenarnya sudah mempunyai istri dan
merupakan seorang raja yang serakah itu dengan terpaksa harus
diterima oleh Raja Kota Hulu, Putrinya
Ambun Suri pun menerimanya bukan karena tertarik, tetapi karena
Sultan Muhammad Syah merupakan raja yang
lebih berkuasa dari pada Raja Kota Hulu, dan dia ingin
berbakti kepada orang tuanya.
Peristiwa tersebut mengundang pergunjingan
di masyarakat, karena Sultan Muhammad Syah adalah sultan
yang tamak yang menurut mereka tidak patut
menikah dengan putri cantik yang berbudi tersebut. Rupanya
Putri Kemala Sari, istri pertama Sultan
Muhammad Syah merasa iri juga panas hatinya dan tidak merelakan
suaminya memperistri Ambun Suri, yang dulu
menjadi teman sepermainannya itu, sehingga dia berniat
mencelakakan Ambun Suri agar bisa
menggagalkan pernikahan tersebut. Dalam suatu kesempatan niatnya itu
dia laksanakan dengan baik. Putri Kemala
Sari mengajak Putri Ambun Suri mandi di sungai. Di sana dia
mencelakakannya sehingga Putri Ambun suri
pun hanyut tenggelam dan lenyap dibawa arus sungai dan tak
tahu nasibnya lagi setelah itu. Segala
usaha mencari mayat Putri Ambun Suri tersebut telah gagal.
Hilangnya Putri Ambun Suri itu ternyata
membuat Sultan Ali Akbar, kakaknya Putri Ambun Suri marah
besar setelah dia tahu bahwa yang
mencelakakan adik yang sangat dia cintai itu adalah Putri Kemala Sari,
istri pertama Sultan Muhammad Syah itu.
Akibatnya terjadilah perang antara kedua belah pihak, yaitu antara
laskar pendukung Sultan Ali Akbar dengan
laskar pendukung Sultan Muhammad Syah. Cukup lama dan
sengit pertempuran yang terjadi, namun
karena Sultan Muhammad Syah mendapat bantuan dari kompeni
maka pasukan Sultan Ali Akbar semakin lama
semakin terdesak. karena tak mampu melawan secara terbuka,
kemudia Sultan Ali Akbar lari kehutan dan
melakukan perlawanan secara gerilya. Sedangkan daerah Sultan
Ali Akbar yang bergelar Raja Adil itu habis
dibumihanguskan oleh laskar kompeni dan Sultan Muhammad
Syah.
Kehadiran kompeni di daerah itu memang
selalu mendapat reaksi negatif dari kebanyakan penduduk, karena
kedatangan mereka disana dilihat dari
tingkah lakunya tidak hanya sekedar berdagang akan tetapi ada maksud
hendak menguasai perdagangan secara
monopoli maupun menguasai tanahnya sekalian. Kaum kompeni itu
selalu melakukan perlawanan sengit dari
penduduk, terutama perlawanan dari para penduduk yang dipimpin
oleh Sultan Ali Akbar yang sangat sulit
untuk dikuasai oleh kompeni.
Dalam menumpas orang-orang atau rakyat yang
tidak setuju dengan kehadiran kompeni-kompeni itu, maka
kompeni selalu mencari dan meminta bantuan
pada raja-raja atau siapa saja dari rakyat yang bersedia
bekerjasama dengan mereka. Nah dalam
usahanya menumpas para pemberontak itu, kompeni tidak semuanya
dibantu oleh laskar Sultan Muhammad Syah
tapi juga oleh seorang gagah berani yang bernama Sultan
Malakewi, seorang pemuda yang merantau
mengadu peruntungan. Sultan Malakewi meninggalkan
kampungnya karena kegemarannya menyabung
ayam telah menghabiskan kekayaan orang tuanya, yang
kemudian tidak mau lagi memberinya uang.
Sultan Malakewi bergabung dengan rombongan saudagar, yang
kemudian diserang penyamun. Sultan Malakewi
berhasil meloloskan diri, dan ditolong oleh Putri Rubiah
yang memiliki putri cantik yang bernama
Sarawaya. Sultan Malakewi dibawa menghadap Orang Kaya Kecil,
yang punyai hubungan dengan Kompeni
Belanda. Orang Kaya Kecil kemudian menganggap Sutan Malakewi
sebagai anaknya sendiri. Apalagi kemudian
dia mengetahui Sultan Malakewi sering menumpas orang-orang
pauh yang sering melakukan penyerangan
terhadap padang, pusat kekuasaan kompeni di pesisir Minangkabau.
Sutan Malakewi kemudian berkomplot dengan
kompeni. Pada saat itu, kompeni tidak hanya bermusuhan
dengan raja-raja setempat, tetapi juga
dengan Aceh yang masih berkuasa di daerah utara pesisir Minangkabau.
Sultan malakewi yang kemudian diberi gelar
Hulubalang raja, tidak menolak untuk menumpas musuh-musuh
kompeni. Sultan Malakewi kemudian ditugaskan
oleh kompeni untuk menumpaskan kaum pemberontak yang
berada di dalam pauh. Berkat bantuan Sultan
Malakewi, banyak kaum pemberontak yang hancur. Namun satu
laskar pemberontak yang paling dia
tumpaskan, yaitu laskar yang dipimpin oleh Raja Adil atau Sultan Ali
Akbar tetap gigih bertahan.
Malah dalam suatu pertempuran, pimpinan
pasukan kompeni yang bernama Groenewegen hampir tewas
digasak oleh laskar Raja Adil, akan tetapi
Groenegewen selamat ditolong oleh Sultan Malakewi. Namun
sejak kecelakaan itu, Groenewegen terus
mengalami sakit-sakitan hingga sampai meninggal dunia. Gruys
yang menggantikan Groenewegen ternyata tak
becus dalam melawan perlawanan orang-orang pauh. Karena
tak becus, dia kemudian digantikan oleh
Abraham Verspeet. Verspeet yang dibantu oleh laskar-laskar yang
dibawa dari Ambon dan Bugis itu dan bersama
Sultan Malakewi menggempur para pemberontak habis-
habisan.
Namun perlawanan rakyat terus saja gigih.
Malah Sultan Malakewi kalau tidak di selamatkan oleh laskar
yang berasal dari Bugis hampir tewas. Dia
hanya terluka saja. Dan Sultan Malakewi sembuh dari lukanya.
Sultan Malakewi mencari adiknya yang
dikabarkan diculik oleh Raja Adil. Dia meninggalkan Orang Kaya
Kecil dan Putri Sarawaya, yang kini sangat
mencintainya,masuk kedaerah Raja Adil dengan cara menyamar
sebagai rakyat biasa kedalam tubih laskar
Raja Adil. Namun penyamaran itu tak lama kemudian terbongkar.
Sultan Malakewi tidak dicelakai oleh Raja
Adil karena ternyata perempuan yang dia culik itu, yang sekarang
dia telah jadikan istri itu, ternyata adik
kandung Sultan Malakewi. Melihat kenyataan itu, rupanya Sultan
Malakewi juga tidak bisa berbuat apa-apa,
karena musuh besarnya sendiri ternyata iparnya sendiri. Kemudian
keduanya, karena sudah menjadi saudara
saling melupakan permusuhan masa lalunya dan betdamai. Sultan
Malakewi kemudian membawa Raja Adil dan
Adnan Dewi adiknya itu kedua orang tuanya. Dan ternyata
orang tua Sultan Malakewi menerima
kedatangan mereka dengan sukacita. Tidak lama kemudian pesta
penyambutan Raja Adil dan istrinya itu
dilanjutkan pesta besar berikutnya,
yaitu pesta perkawinan antara
Sarayawa dengan Sultan Malakewi yang
bergelar Hulubalang Raja itu.
4.
Unsur-unsur Interinsik
a. Tema
Termasuk roman sejarah, perang segitiga
antara raja serakah bersama kompeni melawan seorang raja yang
membela kebenaran agar tanahnya tak
dijajah
b. Tokoh
1. Sultan Ali Akbar atau Raja Adil :
bijak, jujur, baik, dan berani,
"Perlu jua hamba terangkan kepada Ayah lagi? Baik!
Dituntutkan belanya, kata hamba, sebab Ambun
Suri bukan hanyut
dengan tidak bersebab, Ayah! Ia pergi mandi berdua saja dengan Kemala Sari,
dengan bakal
madunya; maka syak hati hamba bahwa ia celaka kena fitnah, bahkan karena
dicelakakan
si
khianat......"
"Dengan
sungguh-sungguh Sutan Ali Akbar mengingatkan kepada mereka itu, bahwa mereka
semata-
mata hanyalah akan
bertentangan dengan sultan dan bala tentaranya. Oleh sebab itu sekali-kali
mereka
tidak boleh
mengganggu isi negeri, tidak boleh merebut merampas harta bendanya. Dan jika
dapat,
istana pin tidak
boleh dirusakkan. Melainkan sultan dua beranak itu mesti ditangkap hidup-hidup,
jangan bercacat
cela hendaknya..."
"Camkan benar nasihat itu, Kawan-kawan!" kata Ali
Akbar. "Musuh dari luar....."
"Rupanya Raja
Adil tiada takut dengan gentar menentang bahaya, badan dan nyawanya hendak
dikurbankan untuk
melindungi dan memeliharakan anak buahnya; lebih-lebih pada masa itu, karena di
dalam kapal ada
tersimpan suatu benda yang lebih berharga dari pada harta sedunia kepadanya.
Siapa
juapun, musuh mana
juapun datang ketika itu mengganggu dia, niscaya dilakukannya dengan mati-
matian".
2. Sultan Muhammad Syah : serakah
"Tentang hal itu tak dapat dibantah perkataan Sutan,"
kata Orang Kaya di Hilir dengan perlahan-lahan.
"Sebab benar
belaka. Rakyat di Hilir boleh dikatakan tiada berhak sedikit jua atas miliknya.
Ada
bersawah, tapi
padinya sebahagian besar untuk sultan; ada berladang, berkebun lada dan
lain-lain, tapi
hasilnya bahagian
Malafar Syah. Mana rakyat yang kaya di daerah Indrapura ini? Kalau masih
berbulu,
masih dapat dicukur, selalu dicukur juga oleh sultan tua
itu."
3. Ambun Suri : baik dan patuh kepada
orang tua
"Hamba insyaf, bunda," katanya kemudian dengan
tangisnya, sesudah mendengar rundingan bundanya
itu, "bahwa
keluarga hamba takkan menjalankan paksaan atas diri hamba. Bagaimana perasaan
hamba,
betapa pikiran
hamba tentang itu? Tak guna hamba uraikan, tak usah hamba paparkan, sebab kilat
cermin sudah ke
muka dan kilat beliung sudah ke kaki, bukan? Tambahkan pula hamba pun tahu
sungguh, betapa
sulitnya kedudukan kita sebagai rakyat yang hina leta berhadapan dengan orang
yang
bersultan di
matanya dan beraja di hatinya. Ya, kata putus dari..... dari mulut hamba
sendiri, Bunda? Ah,
ampun, Bunda... tidak, tidak mungkin, -melainkan cukup
sudah jika hamba katakan bahwa hamba
tiada berniat
sekali-kali, tiada sampai hati hendak merusakkan derajat Ayah dan Bunda!
Sekalipun
hamba tidak kuasa
akan menyinggung perasaan sesama perempuan.... Sampaikan demikian kepada
Ayah dan Kaktua,
Bunda. Hamba sedia akan mengurbankan cita-cita dan perasaan kalbu hamba untuk
keselamatan
rumah-tangga kita sekalian."
4. Putri Kemala Sari : pencemburu dan
jahat
"Sekarang apa dayaku?" pikir Kemala Sari denga masgul bertampur geram. "Akan bermadu
dengan dia?
Tak mungkin! Ia
lebih kaya dari padaku, dan lebih berkuasa; ayahnya raja dalam negeri. Tentu ia
dilebihkan Sultan
dari padaku, meskipun aku istri tua! Lama-kalamaan tentu aku dibuangkan,
dicampakkan oleh
Sultan. Wahai, apa dayaku, karena orang tuaku tiada berada dan tiada berkuasa
seperti ayah bundanya?"
Ia termenung sebentar.
"Aku akan
bercerai dengan junjunganku?" katanya pula dengan terperanjat dan berang.
"Tidak, tak ada
malu sebesar
ini-suami direbut orang! Takkan terderita olehku. Akan tetapi apa akalku akan
menghapuskan malu itu?"
"Rasakan!" kata Kemala Sari dengan besar hatinya.
"Buaya boleh engkau persuami, namun tuan
Muhammad Syah takkan
dapat olehmu," ketika Ambun Suri sudah jauh ke hilir, ia pun berbalik
pulang
dengan rasa
kemenangan.
"Mujur benar
engkau datang kemari, kembang. Aku sudah bermaksud juga hendak memesankan
engkau..... Tumbuh
malang diatas badan kami. Sedang kami bergosok dan berkasai, sedang melagu-
lagukan kecimpung,
dengan takdir Allah angin puncabeliung bertiup seketika dengan keras, sehingga
mundam mak cikmu
melayang masuk air. Ya, mundam yang tak boleh hilang .... Ambin Suri hilir ke
muara menurutkan
mundamnya yang hanyut itu. Ia berpesan kepadaku, menyuruh menyampaikan hal itu
kepada kaktuanya, supaya dituruti dia dengan
segera."
5. Sultan Malakewi : suka menyabung
ayam dan mempoya-poyakan harta orang tuanya.
"Tak guna kita bermenung begini, Berkat," kata orang
muda itu kepada bujang itu, seraya menarik napas
panjang.
"Benar kata adikku putri Andam Dewi: carikan penuntut balas. Sabung masih
ramai di
Pinturaya. Pergi
engkau sekarang juga! Ini uang sekupang genap, beli ayam tiga ekor."
"Dengarkan
dahulu kataku. Seekor ayam bangkeh 1)elang laut, seekor nan jalak 2)belah
rotan, seekor
kelabu pipit
pisang; demikian ayam yang meski engkau cari. Ingat! Kalau tidak dapat engkau
cari itu,
jangan engkau
berbalik pulang. Kalau engkau pulang jua, pedang berasah engkau dapati. Engkau
tiba,
kapan bercabik,
kubur bergali hingga pinggang."
c. Alur
Alur maju, susunannya dimulai dari:
perkenalan, penampilan masalah, puncak permasalahan,
penurunan/perelaian, dan diakhiri
penyelesaian masalah
d. Sudut pandang :Orang Ke-III
e. Gaya Penulisan
Menggunakan bahasa Melayu atau
Minangkabau. Dalam penulisannya masih terlihat menggunakan ejaan
jaman dulu dan tanda baca yang belum
sesuai dengan EYD. Percakapannya banyak menggunakan pantun
berbalas dan majas.
f. Amanat
Jangan sampai menghalalkan segala cara
apalagi mengkhianati bangsa sendiri hanya demi kepentingan
pribadi
dan keserakahan akhirnya hanya akan menghancurkan diri sendiri.