Senin, 07 November 2016

Resensi Novel



                                                       Resensi Novel Hulubalang Raja
1.Identitas Novel
   Judul            : Hulu Balang Raja
   Penulis         : N.St.Iskandar
   Pengarang    : Balai Pustaka
   Tahun terbit : Jakarta, 2001

2. Biografi Penulis
    Nur Sutan Iskandar, ketika kecil bernama Muhammad Nur. Setelah beristri ia diberi gelar Sutan Iskandar,
    sesuai dengan adat Minangkabau tempat asal pengarang.

    Pengarang ini lahir di Sungaibatang, Maninjau, tanggal 3 November 1893 dan meninggal di Jakarta tanggal
    28 November 1975 dalam usia 82 tahun.

    Setelah mendapat didikan pada Sekolah Melayu, ia diangkat menjadi guru. Selama mengajar itulah ia belajar
    sendiri dari buku-buku, terutama tentang bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Seiring pula ia menulis untuk
    surat-surat kabar di Padang, kemudian ia pindah kerja pada Balai Pustaka. Mula-mula ia korektor, kemudian
    berturut-turut diangkat menjadi redaktur dan redaktur kepala.

    Tak kurang dari 82 judul buku diterbitkan atas namanya. Karyanya yang mula-mula diterbitkan berjudul Apa
    Dayaku Karena Aku Perempuan (1922). Kemudian terbit antara lain Cinta Yang Membawa Maut (BP 1926),
    Salah Pilih (BP 1928), Neraka Dunia (BP 1938) Cobaan (BP 1946), sekarang diganti judulnya jadi Turun Ke
    Desa. Selain itu ia juga menulis buku bacaan untuk pelajar, seperti Cerita Tiga Ekor Kucing, Penglaman
    Masa Kecil, Cinta Tanah Air, dan menerjemahkan karya Alexander Dumad; Tiga Orang Panglima Perang,
    Dua PuluhTahun Kemudian, Graaf de Monte Cristo; karya Sinkiewiz, Imam dan pengasihan, dan terakhir
    karya Tagore; Cinta dan Mata, yang terbit tahun 1977.

3. Sinopsis
    Hari kamis pagi..., di sebuah kerajaan, matahari sudah memancarkan sinarnya , hawa dingin telah berganti
    dengan panas dan di dalam sebuah rumah besar di kampung Hulu dalam daerah Indrapura orang baru selesai
    makan pagi. Di luar sudah terdengar bunyi suri memukul benang, dan pasti Putri Ambun Suri mulai bertenun.   
    Di teras telah tampak Sultan Ali Akbar sudah sepekan bermenung berdiam diri saja, sepatah kata pun tidak
    keluar dari mulutnya. Raja Kota Hulu dengan Putri Reno Gading sudah mulai heran dengan sikap anaknya   
    yang termenung salama sepekan ini. Ternyata Sultan Ali Akbar memikirkan tentang adat kebiasaan di
    kampungnya itu, yaitu jikalau anak laki-laki dibesarkan setelah besar akan di beri gelar sedangkan anak
    perempuan dibesarkan setelah besar lalu diajar sopan santun setelah tahu maka akan dicarikan suaminya yaitu
    dengan mengadu peruntungan atau saembara di sebuah gelanggang. Setelah Sultan Ali Akbar
    memberitahukan akibat ketermenungannya itu, tahulah Raja Kota Hulu maksud anak laki-lakinya itu, untuk
    mencarikan suami untuk adiknya Sultan Ali Akbar.
 
    Raja kota Hulu, yang merasa putrinya Ambun suri sudah dewasa dan saatnya dicarikan seorang suami. Untuk
    itu dia mengundang para bangsawan di daerah sekitar kota Hulu ataupun dari daerah lainnya untuk mengadu
    peruntungan menjadi suami putrinya itu. Namun ternyata para bangsawan itu, kecuali Sultan Muhammad
    Syah seorang raja serakah di kota Hilir yang berhasil melampaui perlombaan yang digelarkan, sehingga
    hanya dialah yang berhak melamar Putri Ambun Suri. Lamaran Raja Sultan Muhammad Syah yang
    sebenarnya sudah mempunyai istri dan merupakan seorang raja yang serakah itu dengan terpaksa harus
    diterima oleh Raja Kota Hulu, Putrinya Ambun Suri pun menerimanya bukan karena tertarik, tetapi karena
    Sultan Muhammad Syah merupakan raja yang lebih berkuasa dari pada Raja Kota Hulu, dan dia ingin
    berbakti kepada orang tuanya.
 
    Peristiwa tersebut mengundang pergunjingan di masyarakat, karena Sultan Muhammad Syah adalah sultan
    yang tamak yang menurut mereka tidak patut menikah dengan putri cantik yang berbudi tersebut. Rupanya
    Putri Kemala Sari, istri pertama Sultan Muhammad Syah merasa iri juga panas hatinya dan tidak merelakan
    suaminya memperistri Ambun Suri, yang dulu menjadi teman sepermainannya itu, sehingga dia berniat
    mencelakakan Ambun Suri agar bisa menggagalkan pernikahan tersebut. Dalam suatu kesempatan niatnya itu
    dia laksanakan dengan baik. Putri Kemala Sari mengajak Putri Ambun Suri mandi di sungai. Di sana dia
    mencelakakannya sehingga Putri Ambun suri pun hanyut tenggelam dan lenyap dibawa arus sungai dan tak
    tahu nasibnya lagi setelah itu. Segala usaha mencari mayat Putri Ambun Suri tersebut telah gagal.
   
    Hilangnya Putri Ambun Suri itu ternyata membuat Sultan Ali Akbar, kakaknya Putri Ambun Suri marah
    besar setelah dia tahu bahwa yang mencelakakan adik yang sangat dia cintai itu adalah Putri Kemala Sari,
    istri pertama Sultan Muhammad Syah itu. Akibatnya terjadilah perang antara kedua belah pihak, yaitu antara
    laskar pendukung Sultan Ali Akbar dengan laskar pendukung Sultan Muhammad Syah. Cukup lama dan
    sengit pertempuran yang terjadi, namun karena Sultan Muhammad Syah mendapat bantuan dari kompeni
    maka pasukan Sultan Ali Akbar semakin lama semakin terdesak. karena tak mampu melawan secara terbuka,
    kemudia Sultan Ali Akbar lari kehutan dan melakukan perlawanan secara gerilya. Sedangkan daerah Sultan
    Ali Akbar yang bergelar Raja Adil itu habis dibumihanguskan oleh laskar kompeni dan Sultan Muhammad
    Syah.
   
    Kehadiran kompeni di daerah itu memang selalu mendapat reaksi negatif dari kebanyakan penduduk, karena
    kedatangan mereka disana dilihat dari tingkah lakunya tidak hanya sekedar berdagang akan tetapi ada maksud
    hendak menguasai perdagangan secara monopoli maupun menguasai tanahnya sekalian. Kaum kompeni itu
    selalu melakukan perlawanan sengit dari penduduk, terutama perlawanan dari para penduduk yang dipimpin
    oleh Sultan Ali Akbar yang sangat sulit untuk dikuasai oleh kompeni.
     
    Dalam menumpas orang-orang atau rakyat yang tidak setuju dengan kehadiran kompeni-kompeni itu, maka
    kompeni selalu mencari dan meminta bantuan pada raja-raja atau siapa saja dari rakyat yang bersedia
    bekerjasama dengan mereka. Nah dalam usahanya menumpas para pemberontak itu, kompeni tidak semuanya
    dibantu oleh laskar Sultan Muhammad Syah tapi juga oleh seorang gagah berani yang bernama Sultan
    Malakewi, seorang pemuda yang merantau mengadu peruntungan. Sultan Malakewi meninggalkan
    kampungnya karena kegemarannya menyabung ayam telah menghabiskan kekayaan orang tuanya, yang
    kemudian tidak mau lagi memberinya uang. Sultan Malakewi bergabung dengan rombongan saudagar, yang
    kemudian diserang penyamun. Sultan Malakewi berhasil meloloskan diri, dan ditolong oleh Putri Rubiah
    yang memiliki putri cantik yang bernama Sarawaya. Sultan Malakewi dibawa menghadap Orang Kaya Kecil,
    yang punyai hubungan dengan Kompeni Belanda. Orang Kaya Kecil kemudian menganggap Sutan Malakewi
    sebagai anaknya sendiri. Apalagi kemudian dia mengetahui Sultan Malakewi sering menumpas orang-orang
    pauh yang sering melakukan penyerangan terhadap padang, pusat kekuasaan kompeni di pesisir Minangkabau.
    Sutan Malakewi kemudian berkomplot dengan kompeni. Pada saat itu, kompeni tidak hanya bermusuhan
    dengan raja-raja setempat, tetapi juga dengan Aceh yang masih berkuasa di daerah utara pesisir Minangkabau.
    Sultan malakewi yang kemudian diberi gelar Hulubalang raja, tidak menolak untuk menumpas musuh-musuh
    kompeni. Sultan Malakewi kemudian ditugaskan oleh kompeni untuk menumpaskan kaum pemberontak yang
    berada di dalam pauh. Berkat bantuan Sultan Malakewi, banyak kaum pemberontak yang hancur. Namun satu
    laskar pemberontak yang paling dia tumpaskan, yaitu laskar yang dipimpin oleh Raja Adil atau Sultan Ali
    Akbar tetap gigih bertahan.

    Malah dalam suatu pertempuran, pimpinan pasukan kompeni yang bernama Groenewegen hampir tewas
    digasak oleh laskar Raja Adil, akan tetapi Groenegewen selamat ditolong oleh Sultan Malakewi. Namun
    sejak kecelakaan itu, Groenewegen terus mengalami sakit-sakitan hingga sampai meninggal dunia. Gruys
    yang menggantikan Groenewegen ternyata tak becus dalam melawan perlawanan orang-orang pauh. Karena
    tak becus, dia kemudian digantikan oleh Abraham Verspeet. Verspeet yang dibantu oleh laskar-laskar yang
    dibawa dari Ambon dan Bugis itu dan bersama Sultan Malakewi menggempur para pemberontak habis-
    habisan.
    
    Namun perlawanan rakyat terus saja gigih. Malah Sultan Malakewi kalau tidak di selamatkan oleh laskar
    yang berasal dari Bugis hampir tewas. Dia hanya terluka saja. Dan Sultan Malakewi sembuh dari lukanya.
    Sultan Malakewi mencari adiknya yang dikabarkan diculik oleh Raja Adil. Dia meninggalkan Orang Kaya
    Kecil dan Putri Sarawaya, yang kini sangat mencintainya,masuk kedaerah Raja Adil dengan cara menyamar
    sebagai rakyat biasa kedalam tubih laskar Raja Adil. Namun penyamaran itu tak lama kemudian terbongkar.
    Sultan Malakewi tidak dicelakai oleh Raja Adil karena ternyata perempuan yang dia culik itu, yang sekarang
    dia telah jadikan istri itu, ternyata adik kandung Sultan Malakewi. Melihat kenyataan itu, rupanya Sultan
    Malakewi juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena musuh besarnya sendiri ternyata iparnya sendiri. Kemudian
    keduanya, karena sudah menjadi saudara saling melupakan permusuhan masa lalunya dan betdamai. Sultan
    Malakewi kemudian membawa Raja Adil dan Adnan Dewi adiknya itu kedua orang tuanya. Dan ternyata
    orang tua Sultan Malakewi menerima kedatangan mereka dengan sukacita. Tidak lama kemudian pesta
    penyambutan Raja Adil dan istrinya itu dilanjutkan pesta  besar berikutnya, yaitu pesta perkawinan antara
    Sarayawa dengan Sultan Malakewi yang bergelar Hulubalang Raja itu.
      
4. Unsur-unsur Interinsik
    a. Tema
        Termasuk roman sejarah, perang segitiga antara raja serakah bersama kompeni melawan seorang raja yang
        membela kebenaran agar tanahnya tak dijajah
    b. Tokoh
        1. Sultan Ali Akbar atau Raja Adil : bijak, jujur, baik, dan berani,
            "Perlu jua hamba terangkan kepada Ayah lagi? Baik! Dituntutkan belanya, kata hamba, sebab Ambun
              Suri bukan hanyut dengan tidak bersebab, Ayah! Ia pergi mandi berdua saja dengan Kemala Sari,
              dengan bakal madunya; maka syak hati hamba bahwa ia celaka kena fitnah, bahkan karena dicelakakan
              si khianat......"

            "Dengan sungguh-sungguh Sutan Ali Akbar mengingatkan kepada mereka itu, bahwa mereka semata-
              mata hanyalah akan bertentangan dengan sultan dan bala tentaranya. Oleh sebab itu sekali-kali mereka
              tidak boleh mengganggu isi negeri, tidak boleh merebut merampas harta bendanya. Dan jika dapat,
              istana pin tidak boleh dirusakkan. Melainkan sultan dua beranak itu mesti ditangkap hidup-hidup,
              jangan bercacat cela hendaknya..."
            "Camkan benar nasihat itu, Kawan-kawan!" kata Ali Akbar. "Musuh dari luar....."
          
             "Rupanya Raja Adil tiada takut dengan gentar menentang bahaya, badan dan nyawanya hendak
              dikurbankan untuk melindungi dan memeliharakan anak buahnya; lebih-lebih pada masa itu, karena di
              dalam kapal ada tersimpan suatu benda yang lebih berharga dari pada harta sedunia kepadanya. Siapa
               juapun, musuh mana juapun datang ketika itu mengganggu dia, niscaya dilakukannya dengan mati-
               matian".
        2. Sultan Muhammad Syah : serakah
            "Tentang hal itu tak dapat dibantah perkataan Sutan," kata Orang Kaya di Hilir dengan perlahan-lahan.
            "Sebab benar belaka. Rakyat di Hilir boleh dikatakan tiada berhak sedikit jua atas miliknya. Ada
              bersawah, tapi padinya sebahagian besar untuk sultan; ada berladang, berkebun lada dan lain-lain, tapi
              hasilnya bahagian Malafar Syah. Mana rakyat yang kaya di daerah Indrapura ini? Kalau masih berbulu,
              masih dapat dicukur, selalu dicukur juga oleh sultan tua itu."
        3. Ambun Suri : baik dan patuh kepada orang tua
            "Hamba insyaf, bunda," katanya kemudian dengan tangisnya, sesudah mendengar rundingan bundanya
              itu, "bahwa keluarga hamba takkan menjalankan paksaan atas diri hamba. Bagaimana perasaan hamba,
              betapa pikiran hamba tentang itu? Tak guna hamba uraikan, tak usah hamba paparkan, sebab kilat
              cermin sudah ke muka dan kilat beliung sudah ke kaki, bukan? Tambahkan pula hamba pun tahu
              sungguh, betapa sulitnya kedudukan kita sebagai rakyat yang hina leta berhadapan dengan orang yang
              bersultan di matanya dan beraja di hatinya. Ya, kata putus dari..... dari mulut hamba sendiri, Bunda? Ah,
              ampun, Bunda... tidak, tidak mungkin, -melainkan cukup sudah jika hamba katakan bahwa hamba
              tiada berniat sekali-kali, tiada sampai hati hendak merusakkan derajat Ayah dan Bunda! Sekalipun
              hamba tidak kuasa akan menyinggung perasaan sesama perempuan.... Sampaikan demikian kepada
              Ayah dan Kaktua, Bunda. Hamba sedia akan mengurbankan cita-cita dan perasaan kalbu hamba untuk
              keselamatan rumah-tangga kita sekalian."
        4. Putri Kemala Sari : pencemburu dan jahat
            "Sekarang apa dayaku?" pikir Kemala Sari denga  masgul bertampur geram. "Akan bermadu dengan dia?
             Tak mungkin! Ia lebih kaya dari padaku, dan lebih berkuasa; ayahnya raja dalam negeri. Tentu ia
             dilebihkan Sultan dari padaku, meskipun aku istri tua! Lama-kalamaan tentu aku dibuangkan,
             dicampakkan oleh Sultan. Wahai, apa dayaku, karena orang tuaku tiada berada dan tiada berkuasa
             seperti ayah bundanya?" Ia termenung sebentar.
           "Aku akan bercerai dengan junjunganku?" katanya pula dengan terperanjat dan berang. "Tidak, tak ada
            malu sebesar ini-suami direbut orang! Takkan terderita olehku. Akan tetapi apa akalku akan
            menghapuskan malu itu?"

          "Rasakan!" kata Kemala Sari dengan besar hatinya. "Buaya boleh engkau persuami, namun tuan
            Muhammad Syah takkan dapat olehmu," ketika Ambun Suri sudah jauh ke hilir, ia pun berbalik pulang
            dengan rasa kemenangan.
          "Mujur benar engkau datang kemari, kembang. Aku sudah bermaksud juga hendak memesankan
            engkau..... Tumbuh malang diatas badan kami. Sedang kami bergosok dan berkasai, sedang melagu-
            lagukan kecimpung, dengan takdir Allah angin puncabeliung bertiup seketika dengan keras, sehingga
            mundam mak cikmu melayang masuk air. Ya, mundam yang tak boleh hilang .... Ambin Suri hilir ke
            muara menurutkan mundamnya yang hanyut itu. Ia berpesan kepadaku, menyuruh menyampaikan hal itu
            kepada kaktuanya, supaya dituruti dia dengan segera."
        5. Sultan Malakewi : suka menyabung ayam dan mempoya-poyakan harta orang tuanya.
            "Tak guna kita bermenung begini, Berkat," kata orang muda itu kepada bujang itu, seraya menarik napas
              panjang. "Benar kata adikku putri Andam Dewi: carikan penuntut balas. Sabung masih ramai di
              Pinturaya. Pergi engkau sekarang juga! Ini uang sekupang genap, beli ayam tiga ekor."
            "Dengarkan dahulu kataku. Seekor ayam bangkeh 1)elang laut, seekor nan jalak 2)belah rotan, seekor
              kelabu pipit pisang; demikian ayam yang meski engkau cari. Ingat! Kalau tidak dapat engkau cari itu,
              jangan engkau berbalik pulang. Kalau engkau pulang jua, pedang berasah engkau dapati. Engkau tiba,
              kapan bercabik, kubur bergali hingga pinggang."

    c. Alur
       Alur maju, susunannya dimulai dari: perkenalan, penampilan masalah, puncak permasalahan,
       penurunan/perelaian, dan diakhiri penyelesaian masalah
    d. Sudut pandang :Orang Ke-III
    e. Gaya Penulisan
        Menggunakan bahasa Melayu atau Minangkabau. Dalam penulisannya masih terlihat menggunakan ejaan
        jaman dulu dan tanda baca yang belum sesuai dengan EYD. Percakapannya banyak menggunakan pantun
        berbalas dan majas.
    f. Amanat
       Jangan sampai menghalalkan segala cara apalagi mengkhianati bangsa sendiri hanya demi kepentingan
       pribadi  dan keserakahan akhirnya hanya akan menghancurkan diri sendiri.